Tur Tokyo berpemandu — kuliner, malam, dan pengalaman langsung
46 tur grup kecil yang dijalankan OlaChill: pasar ikan subuh, gang izakaya, kelas membuat sushi, jalur Gunung Takao. Pemandu berbahasa Inggris, pesan 24 jam sebelumnya.

Kelas Master Ramen: racik sendiri kuah, mi, dan semangkuk ramen
Three hours in a working kitchen with a ramen chef: simmer your own broth, pick your noodle firmness, roll your own chashu, then plate the bowl your way and eat it hot. You leave with the recipe.
⏱ 3 jam · Grup 2–8

Tokyo Rail Challenge: stasiun terdalam, jalur tersibuk, kereta tanpa masinis
Tokyo runs the most complex rail network on earth, and most visitors only use it to get from A to B. Here the network IS the destination: descend the deepest subway station, ride the busiest line at rush hour, take the front seat of the driverless Yurikamome over the bay, and learn to buy tickets, top up a Suica and read transfer boards the way locals do.
⏱ 4 jam · Grup 1–6

Menyusuri Tol C1 di Malam Hari + Daikoku Car Meet (Yokohama)
A chauffeured run around Tokyo's C1 expressway loop after dark — the stretch that became an icon of racing films and games — then a stop at Daikoku Futo, the bridge-top parking area where Japan's car scene gathers at weekends. Your guide walks you through Japanese car culture, from tuned kei-cars to the GT-R.
⏱ 4 jam · Grup 2–6

Wisata Sehari Yamanashi: petik buah musiman, cicip anggur, panorama Gunung Fuji
Leave Tokyo by private coach for Yamanashi — Japan's oldest grape and wine region, sitting at the foot of Mt. Fuji. Pick whatever is in season (strawberries, peaches, Shine Muscat grapes by month), eat it in the orchard, taste at a working winery, and stop at a Fuji viewpoint on the way back. All-inclusive: coach, guide, orchard, tasting and lunch. Out and back in one day, no hotel change.
⏱ 10 jam · Grup 4–16

Hari Golf Tokyo All-Inclusive: mobil mewah pribadi, tee-time sudah diamankan
Foreign golfers in Japan usually get stuck at four points: tee-times are booked in Japanese, many courses want a member's introduction, there's no car for the bags, and nowhere obvious to rent clubs. OlaChill already holds the tee time — you just get in the car. A private luxury car (Alphard or V-Class, room to spare for the bags) collects you from your hotel at dawn, clubs are matched to your height and handedness, and our own staff handles the whole check-in.
⏱ 9 jam · Grup 2–4

Ozashiki Kyoto Privat: geiko dan maiko sungguhan, ruang tertutup
A genuine ozashiki in a private room in Kyoto's hanamachi: real geiko and maiko pour, dance, play the parlour games and talk with you through an interpreter, over a multi-course kaiseki dinner. Kyoto's teahouses keep the introduction-only custom — OlaChill is inside that door through an existing relationship, which is why the booking platforms cannot sell this. These are working artists, not costumed performers.
⏱ 3 jam · Grup 2–8

Pasar Pagi Tsukiji: sushi pagi-pagi + 5 cicipan
Bangun pagi dan jelajahi gang-gang pasar luar Tsukiji bersama pemandu lokal: tamagoyaki hangat, kerang scallop panggang, tuna sirip biru, lalu sarapan sushi sambil berdiri seperti para pekerja pasar.
⏱ 3 jam · Grup 2–6

Wisata izakaya hopping di Shinjuku: Omoide Yokocho & Golden Gai
Tiga bar, tiga suasana di gang berlampion paling terkenal di Tokyo: yakitori berasap di Omoide Yokocho, bar Golden Gai dengan enam kursi, lalu ditutup di izakaya langganan warga lokal. Satu minuman + satu hidangan di setiap pemberhentian.
⏱ 3 jam · Grup 2–6

Tur ramen: 3 kedai, 3 gaya kuah
Shoyu bening, tonkotsu kaya rasa, miso pekat — semangkuk porsi cicip di setiap kedai mencakup tiga gaya kuah dalam satu malam, lengkap dengan cerita di balik antrean ramen 40 menit di Tokyo.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–6

Malam premium Shinjuku: omakase sushi + A5 wagyu
Dua puncak kuliner Jepang dalam satu malam: hidangan omakase di konter, lalu A5 wagyu yang dipanggang hingga lumer. Pemandumu mengurus tempat duduk, pemesanan, dan cerita di balik setiap potongannya.
⏱ 3 jam · Grup 2–4

Pasar Nishiki Kyoto: dapur ibu kota lama
Di sepanjang jalan dapur Kyoto yang telah berusia 400 tahun: tahu segar, tsukemono acar racikan rumah, kue ikan panggang, matcha yang dikocok di konter — dan cara warga Kyoto makan mengikuti musim.
⏱ 3 jam · Grup 2–6

Pencicipan sake: 6 gaya dari kering hingga manis + camilan pendamping
Dari junmai yang bernuansa tanah hingga daiginjo yang floral — enam gelas dari peta sake Jepang, dengan camilan yang dipadankan untuk masing-masing gelas serta trik membaca label agar nanti kamu bisa berbelanja sendiri.
⏱ 2 jam · Grup 2–8

Latihan pagi sumo + makan siang chanko para pegulat
Duduk dengan tenang di sisi arena saat latihan pagi sungguhan — tanpa panggung, tanpa pertunjukan — lalu nikmati hotpot chanko-nabe yang menjadi makanan pembangun tubuh rikishi. Pemandu kamu menjelaskan etika di kandang agar kamu tidak melewatkan satu langkah pun.
⏱ 3 jam · Grup 2–8

Tokyo di malam hari: jalan kaki menyusuri neon Shibuya–Shinjuku + spot foto
Seberangi Shibuya saat jam sibuk, susuri gang-gang neon Kabukicho, lalu berakhir di sudut pandang yang tenang — pemandumu sekaligus fotografer, mengambil foto set malam kamu dengan ponselmu sendiri.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–6

Malam-malam di Dotonbori, Osaka: takoyaki, kushikatsu & dapur jalanan
Dapur Jepang yang menyebut dirinya sendiri setelah gelap: takoyaki di tepi kanal, kushikatsu celup-sekali, dan bar berdiri yang hanya diketahui warga lokal. Makan ala kuidaore — sampai kamu tumbang.
⏱ 3 jam · Grup 2–6

Gion saat senja: gang-gang tua, rumah teh & kisah geiko
Gion paling memikat saat lentera mulai menyala: berjalan santai menyusuri Hanamikoji, mendengar kisah nyata dunia geiko-maiko, Yasaka Shrine yang bercahaya — serta cara mengagumi jalan-jalan tua ini dengan penuh hormat.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–8

Camilan jalanan Asakusa: Nakamise & gang-gang belakang yang tenang
Ningyo-yaki dipanggang dalam cetakan, senbei panggang arang, melonpan hangat — lalu keluar dari arus turis menuju gang-gang belakang tempat warga Asakusa benar-benar makan. Akhiri tur di tepi sungai dengan pemandangan Skytree.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–6

Depachika: ruang bawah tanah makanan & seni wagashi
Di bawah department store Ginza terbentang kota makanan: wagashi yang bagaikan permata, seribu gaya bento, stroberi seharga seribu yen. Pelajari budaya oleh-oleh makanan Jepang sambil mencicipinya.
⏱ 2 jam · Grup 2–6

Malam yakitori di Ebisu: sate arang & bar berdiri
Hanya sedikit turis yang menemukan Ebisu, tetapi kerumunan pekerja kantoran Tokyo paling menyukainya: potongan yakitori bakar arang yang tak akan kamu pesan sendirian, bar berdiri yang padat bahu-membahu, dan highball sepulang kerja yang benar-benar pas.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–6

monjayaki Tsukishima: hidangan panggangan rahasia Tokyo
Satu jalan penuh dengan 70 kedai monjayaki — hidangan panggangan khas Tokyo yang bahkan orang Jepang dari luar kota pun sering salah membuatnya. Masak sendiri di bawah arahan pemandu, sambil mendengarkan kisah pulau Tsukishima tempo dulu.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–6

Ameyoko di Ueno: dari pasar gelap pascaperang menjadi surga camilan
Di bawah jalur rel Ueno terbentang pasar paling riuh di Tokyo: hidangan laut yang dipanggang di lapak, tusuk buah, permen yang dijual per gram — serta sejarah pasar gelap pasca-1945 yang masih dibawa oleh setiap lapak.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–6

Jelajah kissaten: kopi era Showa & purin klasik
Sebelum kopi spesialti, Tokyo memiliki kissaten: kafe era Showa dengan kursi beludru, sifon mendesis, dan purin klasik yang padat. Dua kedai pilihan + kisah budaya kafe Jepang abad lalu.
⏱ 2 jam · Grup 2–4

Bar hop di Shibuya: gang-gang Nonbei Yokocho hingga penutup di rooftop
Mulai dari Nonbei Yokocho — gang pemabuk, bar-bar empat kursi di sisi rel — lanjut ke standing bar favorit warga lokal, lalu berakhir di rooftop di atas penyeberangan tersibuk di dunia.
⏱ 3 jam · Grup 2–6

Akihabara setelah malam tiba: arcade, gachapon & budaya otaku
Kota Elektrik di malam hari: satu putaran di arcade bertingkat, berburu gachapon langka, apa sebenarnya kafe maid itu (melihat dari jendela juga tidak masalah), dan bagaimana Akihabara menjadi ibu kota otaku.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–6

Yanaka di waktu senja: Tokyo lama yang tetap bertahan
Distrik yang selamat dari gempa 1923 dan serangan udara 1945: Yanaka Ginza saat tutup, kuil-kuil kecil di gang, kucing-kucing jalanan, dan matahari terbenam dari tangga Yuyake Dandan. Tokyo dalam ritmenya yang paling lambat.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–8

Kelas membuat sushi di konter yang aktif digunakan: bentuk delapan potong, lalu santap semuanya
Berdirilah di belakang konter sushi sungguhan dan pelajari tekanan genggaman, sudut pisau, serta olesan wasabi yang tepat. Bentuk delapan potong, lalu duduk dan santap tepat delapan potong itu, dengan sup miso dan teh.
⏱ 2 jam · Grup 1–8

Dapur rumah Jepang: masak lima hidangan malam hari kerja di flat sungguhan di Asakusa
Bukan dapur demo yang berkilau — ini dapur keluarga sungguhan, sempit dan penuh perlengkapan. Kamu akan memasak lima hidangan yang benar-benar dimakan orang Jepang pada malam Selasa: ayam teriyaki, telur dadar gulung, sayuran dengan saus wijen, sup miso, dan nasi dari panci besi cor.
⏱ 3 jam · Grup 1–6

Upacara minum teh Asakusa: kocok mangkuk matcha pertamamu
Sembilan puluh menit di ruangan bertatami di balik keramaian Asakusa. Saksikan pemandu menyiapkan satu mangkuk sesuai pakem, dengarkan alasan di balik urutan setiap gerakan, lalu ambil pengocoknya dan buat sendiri — yang pertama biasanya encer, yang kedua sudah berbeda.
⏱ 1.5 jam · Grup 1–10

Sesi bermain pedang samurai: posisi berdiri, pernapasan, dan satu tebasan sungguhan
Semuanya dimulai dari cara kamu berdiri, bukan dari teknik. Instruktur mengajarkan posisi kaki, pernapasan, dan cara menghunus pedang tanpa menjatuhkan sarungnya — lalu tibalah saatnya tebasan pertamamu ke matras gulung. Hakama disediakan, dan aksimu direkam untuk kamu.
⏱ 2 jam · Grup 1–8

Vegan Tokyo: enam cicipan tanpa dashi ikan sama sekali
Makan vegan di Jepang sulit bukan karena kekurangan sayuran, melainkan karena dashi bonito tersembunyi di hampir setiap kuah. Rute ini mengunjungi enam tempat yang sudah diperiksa langsung di dapurnya: ramen kaldu jamur, tempura yang digoreng dalam panci terpisah, tahu segar, dan hidangan penutup kacang merah.
⏱ 3 jam · Grup 2–8

Sweet Harajuku: crêpes, es krim awan, dan toko-toko yang hanya bertahan beberapa bulan
Takeshita adalah jalan tempat toko hidangan penutup buka, viral selama tiga bulan, lalu tutup. Pemandu kamu menyusurinya setiap minggu dan tahu mana yang masih enak dan mana yang hanya punya antrean. Lima sesi mencicipi, diakhiri di toko parfait tempat kamu benar-benar bisa duduk.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–8

Shibuya di siang hari: menyantap makanan di gang-gang yang dilewati kerumunan
Semua orang menyeberangi persimpangan Shibuya dan terus berjalan. Rute ini berbelok ke four gang yang jaraknya kurang dari five menit: konter makan siang pekerja kantoran, kedai kari dari era seventies, lapak sandwich, dan tempat dessert yang antreannya hanya diisi warga lokal.
⏱ 3 jam · Grup 2–8

Membongkar rahasia konbini: cara berbelanja di toko serba ada Jepang
Toko konbini Jepang menjual makanan yang benar-benar enak, tetapi semua labelnya dalam bahasa Jepang sehingga pengunjung akhirnya memilih makanan yang biasa-biasa saja. Sembilan puluh menit mengunjungi tiga jaringan besar: membaca label tanggal, menemukan diskon akhir hari, dan sepuluh barang yang layak dibeli.
⏱ 1.5 jam · Grup 1–10

Pasar Toyosu: lelang tuna saat fajar, lalu sushi di dalam pasar
Inilah pasar bagian dalam — tempat ikan benar-benar diperdagangkan, dunia yang berbeda dari jalur-jalur luar Tsukiji. Saksikan lelang tuna dari galeri kaca saat hari masih gelap, ikuti bunyi bel dan isyarat tangan para pembeli, lalu sarapan di konter sushi di dalam pasar itu sendiri.
⏱ 3.5 jam · Grup 2–6

Nihonbashi setelah pulang kerja: kawasan pedagang lama dan toko-tokonya yang telah berusia seabad
Nihonbashi adalah titik nol kilometer Jepang—setiap jarak perjalanan darat di negara ini diukur dari jembatan ini. Kawasan di sekitarnya dahulu merupakan distrik pedagang Edo dan kini dipenuhi menara yang diselingi toko-toko yang dibuka oleh kakek buyut seseorang. Tiga tempat, tiga minuman, tiga cerita.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–8

Memotret Tokyo di malam hari: lima lokasi dan pengaturan untuk masing-masing lokasi
Bukan tur jalan kaki yang disertai foto — ini pemotretan dengan seseorang yang membimbing kamu. Lima lokasi dipilih berdasarkan arah cahaya dan waktunya, dan di setiap lokasi pemandu kamu memberi tahu aperture, kecepatan rana, serta tempat menaruh kamera. Ponsel atau kamera, keduanya bisa digunakan.
⏱ 2.5 jam · Grup 1–6

Togoshi Ginza: jalan pertokoan terpanjang di Tokyo, tanpa turis di sana
Jalan pasar sepanjang 1.3 kilometer dengan lebih dari 400 toko, fifteen menit naik kereta dari Shibuya, dan nyaris tanpa pengunjung asing. Di sinilah warga Tokyo benar-benar membeli makan malam: karaage yang dijual berdasarkan berat, sate panggang, taiyaki, dan konter soba untuk makan berdiri.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–8

Jelajahi jalan-jalan kecil Tokyo dengan sepeda: Yanaka, Nezu, dan Sendagi dalam satu pagi
Tokyo dari atas sepeda adalah kota yang berbeda: jalan-jalan tenang, waktu lampu merah yang singkat, dan jarak tempuh tiga kali lebih jauh dibandingkan berjalan kaki. Empat jam melintasi tiga kawasan tua yang saling berdampingan dan tidak terhubung oleh satu jalur kereta pun — justru itulah alasan ketiganya tetap bertahan.
⏱ 4 jam · Grup 2–8

Di sepanjang Sumida: dua belas jembatan dan Tokyo yang lebih tua
Sumida adalah poros lama Tokyo — sebelum kereta ada, semua orang dan barang bergerak dengan perahu di sungai ini. Susuri tepi sungai melewati dua belas jembatan, masing-masing dengan desain berbeda dari dekade yang berbeda, dengan taman, kuil kecil, dan kedai teh di tepi sungai di antaranya.
⏱ 2.5 jam · Grup 2–10

Taman Timur Istana Kekaisaran: fondasi kastel Edo dan manju
Yang dahulu merupakan kastel terbesar di dunia kini hanya menyisakan fondasi batu dan hamparan rumput — tetapi berdirilah di atas dasar menara utama, dan kamu akan langsung memahami mengapa Tokyo berkembang di sini. Dua jam menjelajahi taman, diakhiri dengan manju dan teh di rumah teh di dalam taman.
⏱ 2 jam · Grup 2–10

Okutama: perkebunan wasabi di dasar aliran sungai dan hutan pegunungan, masih di dalam Tokyo
Dua jam dari Shinjuku dan masih belum keluar dari Tokyo. Okutama adalah sisi pegunungan kota ini: hutan cedar, waduk, dan teras-teras wasabi yang dibangun langsung di dasar aliran sungai — wasabi asli hanya tumbuh di air dingin yang mengalir, tidak pernah di lahan kering.
⏱ 7 jam · Grup 2–8

Gunung Takao: gunungnya Tokyo, naik-turun dalam sehari
Takao adalah gunung yang paling sering didaki di dunia — tiga juta orang setiap tahun, hampir semuanya warga Tokyo yang sedang libur. Ada enam jalur; rute ini melewati jalur yang tenang, menembus hutan cedar tua dan melewati kuil di lereng tempat para biksu masih berlatih.
⏱ 6 jam · Grup 2–10

Sepeda dan perahu: Asakusa, pasar ikan, dan kanal Fukagawa
Half the morning in the saddle, half on the water. Ride from Asakusa down to the fish market, eat a late breakfast at the stalls, then load the bikes onto a small boat into the Fukagawa canals — the part of Tokyo you can only see from water level, where the bridges are low enough to duck under.
⏱ 5 jam · Grup 2–6

Ramen naik sepeda: tiga kedai, tiga kuah, satu sore
Three ramen shops in three neighbourhoods, a small bowl at each so you finish all three: cloudy pork broth, clear soy, and a salt shop the trade eats at. The ride between them is exactly long enough to make room — walking is too slow, and the train skips the best part, which is the road.
⏱ 3.5 jam · Grup 2–6

Satu hari di Tokyo yang dirancang untukmu: pemandu pribadi, rute pilihanmu sendiri
Tidak ada rencana perjalanan tercetak. Sebelum tur, pemandumu akan menanyakan apa yang benar-benar diinginkan kelompokmu — makan, belanja, kuil, tempat anak-anak bisa berlari, atau sekadar hari yang santai — lalu menyusunnya untukmu. Enam jam, hanya untuk kelompokmu, dan mengubah rencana di tengah hari juga tidak masalah.
⏱ 6 jam · Grup 2–6
Kintsugi: perbaiki keramik pecah dengan emas, bawa pulang
Kintsugi is the craft of mending broken pottery with gold-dusted lacquer — Japan doesn't hide the crack, it makes it the point. Choose a broken cup, join it, dust the seam with gold, and carry that exact cup home. Taught in English by a working craftsperson.
⏱ 2.5 jam · Grup 1–6